AQIQAH SESUAI SYAR'I ENAK DAN HALAL

Berpengalaman dan Rasa Dijamin Nikmat

AQIQAH DI SIDOARJO dan SEKITARNYA

Melayani wilayah Sidoarjo dan Sekitarnya

Dengarkan Apa Kata Mereka

Kami akan memberikan yang terbaik untuk anda.

Untuk kedua kalinya saya aqiqoh di sini, karena masakannya enak, saya suka dimasakkan kikil, saya rekomendasikan kepada sanak saudara saya.

testimoni

Yuliana - sidoarjo

Terima kasih, masakan nya enak dan saudara serta teman2 bilang masakannya siiip.... Sukses

testimoni

Dini - Sidoarjo

Acara Aqiqah anak kami lancar. Masakannya yahut bgt dan pengirimannya on time..

testimoni

Nabila - Sidoarjo

Tertarik? Tunggu Apa Lagi?!

Segera Pesan Sekarang Juga

Hanya 2.435.000

Panitia dapat jatah khusus

Panitia dapat jatah khusus?

Status panitia maupun jagal dalam pengurusan hewan qurban adalah sebagai wakil dari shohibul qurban dan bukan amil). Karena statusnya hanya sebagai wakil maka panitia qurban tidak diperkenankan mengambil bagian dari hewan qurban sebagai ganti dari jasa dalam mengurusi hewan qurban.

Oleh karena itu, panitia tidak diperbolehkan mendapat jatah khusus sebagai ganti jasa dari kerja yang mereka lakukan.?

Larangan Mengupah Jagal dengan Bagian Hewan Sembelihan

Dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu bahwa ”Beliau pernah diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurusi penyembelihan ontanya dan agar membagikan seluruh bagian dari sembelihan onta tersebut, baik yang berupa daging, kulit tubuh maupun pelana. Dan dia tidak boleh memberikannya kepada jagal barang sedikitpun.” (HR. Bukhari dan Muslim) dan dalam lafaz lainnya beliau berkata,
  
    نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِناَ
  
”Kami mengupahnya dari uang kami pribadi.” (HR. Muslim). Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama (simak Shahih Fiqih Sunnah, II/379).

Syaikh Abdullah Al-Bassaam mengatakan, ”Tukang jagal tidak boleh diberi daging atau kulitnya sebagai bentuk upah atas pekerjaannya. 

Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai bentuk hadiah jika dia termasuk orang kaya atau sebagai sedekah jika ternyata dia adalah miskin.....” (Taudhihul Ahkaam, IV/464).

Pernyataan beliau semakna dengan pernyataan Ibn Qosim yang mengatakan: ”Haram menjadikan bagian hewan qurban sebagai upah bagi jagal.” Perkataan beliau ini dikomentari oleh Al-Baijuri: ”karena hal itu (mengupah jagal) semakna dengan jual beli. Namun jika jagal diberi bagian dari qurban dengan status sedekah bukan upah maka tidak haram.” (Hasyiyah Al Baijuri As Syafi’i 2/311).

Adapun bagi orang yang memperoleh hadiah atau sedekah daging qurban diperbolehkan memanfaatkannya sekehendaknya, bisa dimakan, dijual atau yang lainnya. Akan tetapi tidak diperkenankan menjualnya kembali kepada orang yang memberi hadiah atau sedekah kepadanya (Tata Cara Qurban, hlm. 69).

Larangan Memperjual Belikan Hasil Sembelihan

Larangan Memperjual Belikan Hasil Sembelihan


Tidak diperbolehkan memperjual-belikan bagian hewan qurban sedikitpun. Baik daging, kulit, kepala, tengkleng, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya. Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu mengatakan,



أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا، لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا  وَجِلاَلَهَا، وَلاَ يُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا شَيْئًا
  



”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan-ku untuk mengurusi penyembelihan onta qurbannya. Beliau juga memerintahkan saya untuk membagikan semua kulit tubuh serta kulit punggungnya. Dan saya tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.”
(HR. Bukhari dan Muslim).



Bahkan terdapat ancaman keras memperjual-belikan bagian dari hewan qurban, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
  
    مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلَا أُضْحِيَّةَ لَهُ
  
”Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka ibadah qurbannya tidak ada nilainya.” (HR. Al Hakim 2/390 & Al Baihaqi dalam As-Shugro 2/229. Al-Albani mengatakan: Hasan).



Catatan:



Pertama, termasuk memperjual-belikan bagian hewan qurban adalah menukar kulit atau kepala dengan daging atau menjual kulit untuk kemudian dibelikan kambing atau daging. Karena hakekat jual-beli adalah tukar-menukar meskipun dengan selain uang.



Kedua, transaksi jual-beli kulit hewan qurban yang belum dibagikan adalah transaksi yang tidak sah. Artinya penjual tidak boleh menerima uang hasil penjualan kulit dan pembeli tidak berhak menerima kulit yang dia beli.



Hal ini sebagaimana perkataan Al-Baijuri: ”Tidak sah jual beli (bagian dari hewan qurban) disamping transaksi ini adalah haram.” Beliau juga mengatakan: ”Jual beli kulit hewan qurban juga tidak sah karena hadits yang diriwayatkan Hakim (baca: hadits di atas). (Fiqh Syafi’i 2/311).



Ketiga, jika kulit sudah diberikan kepada orang lain, bagi orang yang menerima kulit, dibolehkan memanfaatkan kulit sesuai keinginannya, baik dijual maupun untuk pemanfaatan lainnya, karena ini sudah menjadi haknya. Sedangkan menjual kulit yang dilarang adalah menjual kulit sebelum dibagikan (disedekahkan), baik yang dilakukan panitia maupun shohibul qurban.

Bolehkah Memberikan Daging Qurban kepada Orang Kafir

Bolehkah Memberikan Daging Qurban kepada Orang Kafir?

Ulama madzhab Malikiyah berpendapat makruhnya memberikan daging qurban kepada orang kafir. Imam Malik mengatakan: ”(diberikan) kepada selain mereka (orang kafir) lebih aku sukai.” Sedangkan syafi’iyah  berpendapat haramnya memberikan daging qurban kepada orang kafir untuk qurban yang wajib (misalnya qurban nadzar, pen.) dan makruh untuk qurban yang sunnah. (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 29843).

Imam Al Baijuri As Syafi’i mengatakan: ”Dalam Al Majmu’ (Syarhul Muhadzab) disebutkan, boleh memberikan sebagian qurban sunah kepada kafir dzimmi yang miskin. Tapi ketentuan ini tidak berlaku untuk qurban yang wajib.” (Hasyiyah Al Baijuri 2/310).

Lajnah Daimah (Majlis Ulama’ saudi Arabia) ditanya tentang hukum memberikan daging qurban kepada orang kafir.

Jawaban Lajnah:

”Kita dibolehkan memberi daging qurban kepada orang kafir Mu’ahid baik karena statusnya sebagai orang miskin, kerabat, tetangga, atau karena dalam rangka menarik simpati mereka… namun tidak dibolehkan memberikan daging qurban kepada orang kafir Harby, karena kewajiban kita kepada kafir harby adalah merendahkan mereka dan melemahkan kekuatan mereka. 

Hukum ini juga berlaku untuk pemberian sedekah. Hal ini berdasarkan firman Allah:
  
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
  
”Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah 8)

Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan Asma’ binti Abu Bakr radliallahu ‘anhu untuk menemui ibunya dengan membawa harta padahal ibunya masih musyrik.” (Fatwa Lajnah Daimah no. 1997).

Kesimpulannya, memberikan bagian hewan qurban kepada orang kafir dibolehkan karena status hewan qurban sama dengan sedekah atau hadiah. Sementara kita boleh memberikan hadiah kepada orang kafir. 

Sedangkan pendapat yang melarang adalah pendapat yang tidak kuat karena tidak berdalil.

Hukum Makan Daging Qurban Nadzar

Setiap orang yang berqurban, dianjurkan untuk makan daging qurbannya.

Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam Al-Quran:
  
فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ
  
“Jika onta qurban itu sudah jatuh (mati), makanlah darinya dan juga berikanlah kepada orang yang meminta dan yang tidak meminta..” (QS. Al-Hajj: 36).

Ulama sepakat, ayat ini berlaku untuk qurban atau hadyu yang sunah.

Qurban karena nadzar, termasuk qurban yang hukumnya wajib. Ulama berbeda pendapat tentang hukum makan daging qurban wajib, bagi shohibul qurban (pelaku qurban).

Pertama, pemilik qurban nadzar tidak boleh ikut memakannya, dan wajib dia serahkan seluruhnya kepada orang lain. Ini adalah pendapat Hanafiyah, Syafiiyah dan mayoritas madzhab Hambali.

An-Nawawi mengatakan:
  
(فرع) في مذاهب العلماء في الاكل من الضحية والهدية الواجبين. قد ذكرنا أن مذهبنا أنه لا يجوز الاكل منهما سواء كان جبرانا أو منذورا وكذا قال الاوزاعي وداود الظاهري لا يجوز الاكل من الواجب
  
(Pasal) tentang pendapat para ulama mengenai hukum makan hewan qurban atau hadyu yang wajib. Telah kami tegaskan bahwa madzhab kami berpendapat, tidak boleh makan qurban dan hadyu yang wajib, baik karena memaksa diri sendiri atau karena nadzar. Demikian yang menjadi pendapat Al-Auza’i, Daud Ad-Dzahiri, tidak boleh akan qurban wajib. (Al-Majmu’, 8/418).

Dalam Fatawa ar-Ramli – ulama madzhab syafiiyah – beliau ditanya tentang orang yang menentukan, bahwa kambing X miliknya akan diqurbankan. Bolehkan pemiliknya makan?

Beliau menjawab:
  
    بأن الشاة المذكورة تصير بلفظه المذكور أضحية, وقد زال ملكه عنها فيحرم عليه أكله من الأضحية الواجبة 

Kambing yang disebutkan di pertanyaan di atas, statusnya menjadi kambing qurban disebabkan ucapan pemiliknya (menegaskan bahwa itu untuk qurban). Sehingga kepemilikan dia telah hilang. Karena itu, haram baginya untuk makan daging qurban wajib. (Fatawa ar-Ramli, 4/69)

Sementara Ibnu Qudamah mengatakan:
  
    وَإِنْ نَذَرَ أُضْحِيَّةً فِي ذِمَّتِهِ ثُمَّ ذَبَحَهَا، فَلَهُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا.وَقَالَ الْقَاضِي: مِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ مَنَعَ الْأَكْلَ مِنْهَا.وَهُوَ ظَاهِرُ كَلَامِ أَحْمَدَ
  
Jika ada orang yang nadzar untuk qurban, kemudian dia menyembelih qurban, maka dia boleh memakannya. Sementara Al-Qodhi Abu Ya’la mengatakan: Diantara ulama madzhab kami (hambali) ada yang melarang memakannya, dan itu yang nampak dari perkataan Imam Ahmad. (Al-Mughni, 9/444).

Kedua, shohibul qurban boleh memakannya. Ini adalah pendapat madzhab Malikiyah dan sebagian ulama hambali

Dalam Ensiklopedi Fikih dinyatakan:
  
أمّا إذا وجبت الأضحيّة ففي حكم الأكل منها اختلاف الفقهاء وَوُجُوبُهَا يَكُونُ بِالنَّذْرِ أَوْ بِالتَّعْيِينِ .... فعند المالكيّة ، والأصحّ عند الحنابلة، أنّ له أن يأكل منها ويطعم غيره
  
“Untuk qurban wajib, ada perselisihan ulama tentang hukum memakannya. Dimana qurban menjadi wajib disebabkan nadzar atau dengan penunjukan (misal: kambing X untuk qurban tahun ini)... menurut madzhab Maliki dan pendapat yang kuat dalam amdzhab hambali, shohibul qurban boleh memakannya, dan mensedekahkan kepada orang lain. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 6/115)

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, terdapat kesimpulan :
  
ومن هنا يعلم الأخ السائل أن حكم الأكل من الأضحية التي وجبت بالنذر أو التعيين محل خلاف بين الفقهاء، والأحوط ترك الأكل منها
  
Dari sini, anda bisa menyimpulkan bahwa hukkum makan daging qurban wajib karena nadzar maupun penunjukkan, termasuk masalah yang diperselisihkan ulama. Yang lebih hati-hati, tidak ikut memakannya. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 103330)

Pemanfaatan Hasil Sembelihan

Bagi pemilik hewan qurban dibolehkan memanfaatkan daging qurbannya dengan beberapa cara:

1. Dimakan sendiri dan keluarganya

Dibolehkan bagi sohibul qurban untuk ikut memakan hewan qurbannya. Termasuk berqurban karena nadzar, menurut pendapat yang benar. Bahkan sebagian ulama menyatakan shohibul qurban wajib makan bagian hewan qurbannya. Ini berdasarkan firman Allah:
      
 فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ
      
“Makanlah darinya dan berikan kepada orang yang sangat membutuhkan” (Qs. Al-Haj: 28)

2. Disedekahkan kepada orang yang membutuhkan (miskin)

3. Dihadiahkan kepada orang yang kaya

Pembagian antara disedekahkan, dihadiahkan, dan dimakan sendiri tidak harus persis dibagi rata sepertiga. Masing-masing boleh mendapatkan lebih dari itu. Misalnya, dimakan sendiri lebih dari 1/3 jatah daging.

4. Disimpan untuk bahan makanan di lain hari.

Penyimpanan ini hanya dibolehkan jika tidak terjadi musim paceklik atau krisis makanan.

Dari Salamah bin Al Akwa’ dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      
 مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَثَالِثَةٍ وَبَقِيَ فِي بَيْتِهِ مِنْهُ شَيْءٌ
      
”Barangsiapa diantara kalian yang berqurban maka jangan sampai dia menjumpai subuh hari ketiga sesudah hari raya sedangkan dagingnya masih tersisa walaupun sedikit.”

Ketika datang tahun berikutnya maka para sahabat mengatakan, ”Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?” Maka beliau menjawab,
      
كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا، فَإِنَّ ذَلِكَ العَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ، فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا
      
”(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami kesulitan (makanan) sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut mayoritas ulama, perintah makan atau menyimpan daging qurban yang terdapat dalam hadits ini hanya menunjukkan hukum anjuran, bukan wajib (simak Shahih Fiqih Sunnah, II/378). Oleh sebab itu, boleh mensedekahkan semua hasil sembelihan qurban. 

Sebagaimana diperbolehkan untuk disedekahkan seluruhnya kepada orang miskin dan sedikitpun tidak dihadiahkan (diberikan kepada orang kaya). (Minhaajul Muslim, 266).

Penyelenggaraan Qurban

Siapakah yang Dianjurkan Menyembelih Qurban?

Dianjurkan bagi shohibul qurban untuk menyembelih hewan qurbannya sendiri jika mampu menyembelih dengan baik. Namun boleh diwakilkan kepada orang lain. 

Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi mengatakan: ”Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama' dalam masalah ini.” Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu di dalam Shahih Muslim yang menceritakan bahwa pada saat qurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih beberapa onta qurbannya dengan tangan beliau sendiri kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu untuk disembelih. (Ahkaamul Idain, 32).

Aturan & Tata Cara Menyembelih

Pertama, tidak boleh menyembelih kecuali seorang muslim atau ahli kitab (yahudi & nasrani) yang telah tamyiz (minimal usia 7 tahun) dan berakal. Kemudian, orang yang menyembelih harus berniat menyembelih untuk dimakan. Tidak boleh ditujukan untuk selain Allah dan tidak bolek menyebut nama selain Allah ketika menyembelih. Ini semua adalah syarat sah sembelihan.

Kedua, wanita dibolehkan untuk menyembelih hewan. Status sembelihan wanita adalah sah dan halal. Dalilnya adalah
  
أَنَّ جَارِيَةً لِكَعْبِ بْنِ مَالِكٍ كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا بِسَلْعٍ فَأُصِيبَتْ شَاةٌ مِنْهَا فَأَدْرَكَتْهَا فَذَبَحَتْهَا  بِحَجَرٍ فَسُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُلُوهَا
  
”Bahwa seorang budak perempuan milik Ka'ab bin Malik pernah menggembalakan kambing-kambing di Sala' [nama tempat]. Lalu seorang kambing di antaranya terkena sesuatu, lalu budak itu mendapatinya dan menyembelih kambing itu dengan batu. Kemudian Nabi SAW ditanya mengenai hal itu dan Nabi SAW berkata,”Makanlah kambing itu.” (HR Bukhari, no 5081)

Ketiga, dianjurkan bagi orang yang berqurban untuk menyembelih qurbannya sendiri (tanpa diwakilkan). Namun jika penyembelihannya diwakilkan, kepada panitia atau jagal, maka qurbannya sah.

Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi mengatakan: Saya tidak mengetahui adanya perselisihan di antara ulama dalam masalah ini. (Ahkam Al idain, hal. 32). 

Apabila pemilik qurban tidak bisa menyembelih sendiri maka sebaiknya dia ikut datang menyaksikan penyembelihannya.

Keempat, wajib memperlakukan hewan dengan baik ketika menyembelih. Dengan melakukan cara penyembelihan yang paling mudah dan paling cepat mematikan.

Dari Syaddad bin Aus radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
  
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا  الذَّبْح وَ ليُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
  
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan kepada semuanya. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Keterangan:

Ihsan adalah memperlakukan sesuatu dengan sebaik mungkin. berbuat ihsan ketika menyembelih, rinciannya sebagai berikut:

Jika hewan sembelihannya berupa onta maka menyembelihnya dilakukan dengan berdiri dan kaki kiri depan ditekuk kemudian diikat

 Allah berfirman:
      
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ الله لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ الله عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا
      
"Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu bagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). 

Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah..."(QS. Al Hajj: 36)

Makna: “kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat)”

Dijelaskan Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma tentang ayat di atas: 

(Ontanya) berdiri dengan tiga kaki, sedangkan satu kaki depan yang kiri diikat. (Tafsir Ibn Katsir, 5/427).

Dari Jabir bin Abdillah radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyembelih onta dengan posisi kaki kiri depan diikat, dan berdiri dengan tiga kaki sisanya. (HR. Abu daud & dishahihkan Al Albani)
    
Jika hewan sembelihannya selain onta maka menyembelihnya sambil dibaringkan ke lambung kiri, dan orang yang menyembelih meletakkan kakinya di lehernya agar bisa menekan hewan sehingga tidak banyak bergerak.

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,...beliau sembelih dengan tangannya, dan beliau letakkan kaki beliau di atas leher hewan. (HR. Al Bukhari & Muslim)
    
Kelima, membaca basmalah ketika menyembelih. Tidak perlu ditambahi Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Dan ini hukumnya wajib

Allah berfirman:
  
وَ لاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ الله عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ..
  
"Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan." (QS. Al An'am: 121)

Untuk bacaan bismillah hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunah. Tapi yang lebih kuat adalah pendapat mayoritas ulama, berdasarkan ayat di atas.

Keenam, dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah

Dari Anas bin Malik radliallahu‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,...beliau sembelih dengan tangannya, beliau baca basmalah dan bertakbir.... (HR. Al Bukhari & Muslim).

Ketujuh, menyebut orang yang menjadi atas nama qurban ketika menyembelih

Dari Jabir bin Abdillah radliallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika didatangkan seekor domba. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dengan tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan:
  
بِسْمِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، هَذَا عَنِّي، وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
  
“Bismillah Wallaahu akbar, ini qurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berqurban dari umatku.” (HR. Abu Daud, At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani)

Demikian pula dibolehkan, setelah membaca bismillah Allahu akbar, diikuti salah satu diantara bacaan berikut:

Hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud 2795) Atau Hadza minka wa laka ’anni atau ’an fulan (disebutkan nama shahibul qurban). Jika yang menyembelih bukan shohibul qurban, atau berdoa agar Allah menerima qurbannya dengan doa, ”Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shahibul qurban)” (Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, hal. 92)

Kedelapan, terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dua urat leher (kanan-kiri), dan mengalirkan darah.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menyebutkan bahwa penyembelihan yang sesuai syariat itu ada tiga keadaan (dinukil dari shalatul idain karya Syaikh Sa'id Al Qohthoni):

Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Ini adalah keadaan yang terbaik. Jika terputus empat hal ini maka sembelihannya halal menurut semua ulama.

Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu urat leher. Sembelihannya benar, halal, dan boleh dimakan, meskipun keadaan ini derajatnya di bawah kondisi yang pertama.

Terputusnya tenggorokan dan kerongkongan saja, tanpa dua urat leher. Status sembelihannya sah dan halal, menurut sebagian ulama, dan merupakan pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
  
مَا أَنْهَرَ الدَّمَ، وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوهُ، لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ
  
“Selama mengalirkan darah dan telah disebut nama Allah maka makanlah. Asal tidak menggunakan gigi dan kuku." (HR. Al Bukhari & Muslim)

 Catatan: Tidak terdapat do'a khusus yang panjang bagi shohibul qurban ketika hendak menyembelih. Allahu a’lam.

Bolehkah membaca Shalawat Ketika Menyembelih?

Tidak boleh mengucapkan shalawat ketika hendak menyembelih, karena beberapa alasan:

Tidak terdapat dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan shalawat ketika menyembelih. Sementara beribadah tanpa dalil adalah perbuatan bid'ah.

Bisa jadi ketika membaca shalawat pada saat menyembelih, muncul keinginan untuk bertawasul dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyembelih. Dikhawatirkan ini akan mengantarkan kepada kesyirikan

Bisa jadi dengan membaca shalawat seseorang membayangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyembelih, sehingga sembelihannya tidak murni untuk Allah. (Syarhul Mumti’ 7/492).